Dinas Pertanian Gandeng Paguyuban Petani Kopi Tiris, Angkat Potensi Arabika-Robusta-Liberika di Harjakpro ke-280*

Probolinggo,sidik-investigasi.com – PROBOLINGGO, 21 April 2026 – Perayaan Hari Jadi Kabupaten Probolinggo (Harjakpro) ke-280 tidak hanya diramaikan oleh hiburan dan bazar UMKM, tapi juga menjadi panggung bagi komoditas unggulan daerah. Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo menggandeng Paguyuban Petani Kopi Kecamatan Tiris untuk memperkenalkan kekayaan cita rasa kopi asli lereng pegunungan kepada publik.

Sebanyak 11 kelompok tani yang tergabung dalam paguyuban turun langsung ke arena Harjakpro di Alun-Alun Kraksan. Mereka membawa tiga varietas andalan Tiris: Arabika, Robusta, dan Liberika. Ketiganya ditampilkan bukan sekadar sebagai biji mentah, melainkan sudah diolah dan diseduh langsung oleh barista lokal di stand pameran.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Probolinggo, Arif Kurniadi, mengatakan kolaborasi ini sengaja dirancang untuk memperkuat sektor hilir kopi. Selama ini, Tiris dikenal sebagai salah satu sentra kopi di Probolinggo, namun branding dan akses pasarnya masih terbatas.

“Kami menampilkan barista bersama paguyuban dalam event ini agar masyarakat lebih mengenal kualitas kopi kita. Harapannya, selain mengangkat nama daerah, para petani bisa mendapatkan penghasilan lebih dan akses pasar yang lebih luas melalui acara ini,” ungkap Arif, Selasa (21/4/2026).

Untuk menarik minat pengunjung, paguyuban menyiapkan strategi promosi langsung. Sebanyak 200 porsi kopi dibagikan gratis kepada pengunjung yang datang ke stand. Selain itu, 1.000 cup kopi lain disiapkan sebagai sarana pengenalan brand kopi olahan petani Tiris. Pengunjung bisa mencicipi perbedaan karakter tiap varietas: Arabika dengan keasaman dan aroma floral, Robusta yang lebih pahit dan bold, serta Liberika dengan ciri khas aroma nangka dan body tebal.

Koordinator PPL Kecamatan Tiris, Zofi Zubaidi, menyebut keterlibatan 11 kelompok tani sekaligus menjadi bukti kekompakan petani di wilayahnya. Menurutnya, Harjakpro adalah momentum yang tepat untuk unjuk gigi.

“Dengan adanya event ini, kami ingin kelompok tani semakin maju dan mandiri. Kami membawa tiga varietas sekaligus—Arabika, Robusta, dan Liberika—untuk menunjukkan bahwa Tiris punya potensi yang lengkap,” ujar Zofi.

Zofi menambahkan, tantangan petani kopi saat ini bukan hanya di produksi, tapi juga di pascapanen dan pemasaran. Karena itu, kehadiran barista di stand dinilai penting untuk mengedukasi pengunjung soal proses roasting, grinding, hingga penyeduhan yang tepat agar cita rasa kopi Tiris keluar maksimal.

Antusiasme pengunjung terlihat sejak stand dibuka pagi hari. Antrean warga yang penasaran mencicipi kopi gratis mengular, terutama saat barista melakukan demo manual brew metode V60 dan tubruk khas petani. Beberapa pelaku kafe dari kota juga tampak mendatangi stand untuk menjajaki kerja sama pasokan biji kopi.

“Baru tahu kalau Tiris punya Liberika. Rasanya unik, kayak ada buah-buahnya. Kalau ada kemasan kecil buat oleh-oleh pasti laku,” kata Dian, salah satu pengunjung asal Kraksan.

Dinas Pertanian mencatat, Kecamatan Tiris memiliki ketinggian lahan 400–900 mdpl yang cocok untuk ketiga jenis kopi tersebut. Selama ini distribusi masih didominasi tengkulak, sehingga nilai tambah banyak dinikmati pihak lain. Lewat event Harjakpro, Pemkab berharap jaringan pasar petani bisa langsung ke konsumen, kafe, hingga potensi ekspor skala kecil.

Ke depan, Dinas Pertanian berencana memfasilitasi pelatihan lanjutan untuk kelompok tani, mulai dari kurasi mutu, pengemasan, hingga digital marketing. Harjakpro ke-280 menjadi langkah awal untuk menjadikan “Kopi Tiris” sebagai salah satu ikon Kabupaten Probolinggo di sektor agribisnis.

“Kami ingin setelah dari sini, orang ingat: kalau ke Probolinggo, jangan lupa bawa pulang kopi Tiris,” tutup Arif.




Penulis : H candra/ moch zaini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *