Kisah Getirnya hidup Pemulung Janda Maria Modesta

Kisah Getirnya hidup Pemulung Janda Maria Modesta, Berburu Rupiah Dari Rongsokan Sampah, Tinggal di Rumah Reyot Beratapkan Seng Bekas

 

Sikka. Sidik-Investigasi.Com

Janda Maria Modesta ( 57) potret janda yang sudah dua kali dicerai mati suaminya harus bertahan hidup di tengah hiruk pikuknya kehidupan di Kota Maumere Kabupaten Sikka Flores Nusa Tenggara Timur.

Janda yang berasal dari Lalat Kecamatan Nita Kabupaten Sikka ketika ditemui Sidik-Investigasi. Com di rumah deritanya yang menjadi saksi bisu kehidupannya Jumat (13/6/2025) sungguh menyedihkan.

Menempati rumah reyot berukuran 2×2 meter diatas lahan pemerintah di belakang kantor Disperindag Sikka sungguh menyedihkan. Atap rumahnya dari seng bekas dan karat yang dipungut dari tempat sampah, berlantai tanah dan hanya satu tempat tidur kecil tempat berbaring setelah melakoni giat memulung sehari-hari.

Dinding rumah dari cincangan bambu ( halar, bahasa Sikka, red) yang berlubang-lubang. Lagi pula angin malam dan dingin yang menusuk tubuh akrab dalam setiap tidur malamnya.

“Ya beginilah hidup saya. Sudah dikucilkan dari keluarga tidak punya siapa-siapa. Hidup dari tumpukan sampah. Satu dua rupiah dari jual sampah langsung digunakan untuk beli beras. Sedangkan untuk sayur dan ikan mau beli uang dimana. Biasanya untuk menghemat tiap hari buat bubur saja, ” ungkapnya lirih.

Aktivitas setiap hari dari janda dari 6 orang anak ini pukul 5.00 Witeng ketika masih pagi buta dan warga Kota Maumere masih lelap tertidur, dengan bermodalkan karung di tangan menyusuri Kota Maumere menuju tempat sampah.

“Saya harus pergi ke tempat sampah pagi- pagi buta. Kalau terlambat pemulung lain dan Oto sampah sudah duluan berarti saya tidak dapat apa-apa, ” katanya.

Kepungan lalat dan bau busuk menyengat tidak mampu menjinakkan janda Modesta untuk terus mengais sampah demi “dapur” hari itu. Hari ini dapat sampah, pilah, jual dapat uang beli beras dan besok cari lagi.

“Saya hanya terus berdoa kiranya Tuhan memberikan saya kesehatan jiwa dan badan agar saya dapat mengisi hari- hari di usia senja dengan baik dan rezeki secukupnya untuk bertahan hidup, ” ungkapnya.

Soal jualan botol-botol bekas dari gelas plastik dan kardus setiap hari kalau rezeki demikian Modesta hanya bisa mendapatkan Rp 30 ribu – Rp 50 ribu.

“Tapi apa arti uang sebesar itu hanya mampu dapatkan tiga kilo beras. Apalagi beras kisaran harga Rp 15 ribu per kilogram. Tapi saya selalu syukuri, ” katanya.

Modesta juga mengakui Pemerintah tidak tutup mata terhadap dirinya. Ia mengatakan pernah menerima Dana BLT beberapa tahun lalu sebesar Rp 1,2 juta dan hingga kini belum ada lagi.

Tokoh Muda Kota Maumere Urbanus Londa menyarankan sebaiknya Pemkab Sikka memperhatikan para pemulung yang beroperasi di Kota Maumere.

“Kegiatan pemulung ini terintegrasi dengan program pemerintah ikut membersihkan Kota Maumere agar sedap dipandang mata, ” tegas Urbanus.

Kalau bisa saran Urbanus, Pemkab Sikka memberikan insentif untuk mereka dalam bentuk uang karena petugas kebersihan hanya di jalan raya tapi mereka mengambil sampah di lorong- lorong dan sudut-sudut kota.

“Perlu juga mereka di inventarisir dan buat pendampingan karena menjadi pemulung beresiko terhadap kesehatan diri karena selalu bersentuhan dengan hal-hal kotor, ” pungkasnya.

Reporter : Yuven Sikka NTT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *