Uskup Maumere, Mgr. Ewaldus Martinus Sedu, Pr : Gedung Baru Bukan Hanya Tempat Pelayanan Administrasi Tetapi Harus Menjadi Rumah Belas Kasih

Uskup Maumere, Mgr. Ewaldus Martinus Sedu, Pr : Gedung Baru Bukan Hanya Tempat Pelayanan Administrasi Tetapi Harus Menjadi Rumah Belas Kasih

 

Sikka. Sidik.Investigasi.com

Pemberkatan Gedung KSP Kopdit Pintu Air Cabang Talibura Kecamatan Talibura Kabupaten Sikka Flores NTT diawali dengan misa syukur yang dipimpin Uskup Maumere Mgr. Ewaldus Martinus Sedu, Pr didampingi 7 imam lainnya.

Upacara Misa yang mengusung tema ” Aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya boleh memenangkan sebanyak mungkin orang” dilaksanakan di Talibura Senin ( 06/10/2025).

Dalam homilinya Uskup Ewal mengisahkan orang Samaria dalam Injil yang murah hati. Ia menolong orang asing yang tergeletak di jalan sementara imam dan orang Lewi melewatinya begitu saja.

Realitas biblis ini kata Uskup Ewal sederhana tapi menusuk: sesama bukan ditentukan oleh agama, suku atau organisasi tetapi oleh siapa yang berani menunjukkan belas kasih.

KSP Kopdit Pintu Air lanjut Uskup Ewal dipanggil untuk menjadi “orang Samaria” di zaman ini, menolong anggota yang jatuh, memberi tumpangan bagi keluarga yang terhimpit, mendampingi orang kecil yang sering terpinggirkan.

“Gedung baru ini bukan hanya tempat pelayanan administrasi tetapi harus menjadi rumah belas kasih, tempat dimana sesama tidak sekadar dihitung sebagai anggota melainkan dihargai sebagai saudara, ” tegas Uskup Ewal.

Menyinggung tema perayaan ” Aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya boleh memenangkan sebanyak mungkin orang” Uskup Ewal mengatakan kata “hamba” disini bukan berarti rendah atau hina melainkan sikap hati yang siap melayani.

Rasul Paulus demikian Uskup Ewal menantang kita : kekuatan sejati bukan pada kuasa melainkan pada kerelaan mengabdi.

“KSP Kopdit Pintu Air dipanggil untuk menjadi gerakan pelayanan bukan tempat mencari keuntungan pribadi melainkan sarana membawa sebanyak mungkin orang keluar dari kesulitan hidup menuju kesejahteraan bersama atau bonum commune, ” kata Uskup Ewal.

Kepada para pengurus KSP Kopdit Pintu Air dan anggota serta undangan yang hadir pada misa syukur tersebut memberikan tiga poin untuk direnungkan.

Pertama, KSP Kopdit Pintu Air akan kehilangan maknanya bila hanya melahirkan anggota yang kaya namun lupa berbagi dengan mereka yang miskin. Sebab kesejahteraan sejati bukan diukur dari berapa banyak harta yang terkumpul melainkan dari sejauh mana harta itu menjadi saluran berkat bagi sesama. Kekayaan yang tidak berbagi hanyalah kesepian yang terbungkus rapi tetapi kekayaan yang dipersekutukan melahirkan sukacita yang berlipat ganda.

Kedua, berbagai jenis tabungan akan kehilangan rohnya bila tidak memupuk solidaritas. Tabungan yang hanya menumpuk angka tidak akan pernah membawa kehidupan, tetapi tabungan yang dijiwai semangat kebersamaan akan menjadi sumber harapan di saat duka, sumber kekuatan di kala lemah dan sumber terang di tengah gelapnya jalan hidup. Solidaritas adalah nafas yang membuat tabungan uang bukan sekadar simpanan uang melainkan tanda persaudaraan yang saling menopang.

Ketiga, gedung megah ini pun akan kehilangan jiwanya bila tidak dihidupi dengan cinta. Tembok yang tinggi, pilar yang kokoh, dan ruang yang luas hanyalah benda mati jika tidak ada kasih yang mengalir di dalamnya. Namun bila cinta menjadi denyutnya maka gedung ini bukan lagi sekadar bangunan melainkan rumah persaudaraan, altar solidaritas dan saksi kasih Allah yang hidup di tengah umat.

“Karena itu perayaan hari ini bukan hanya tentang pemberkatan Gedung tetapi juga pembaruan hati. Semoga karyawan, para anggota dan pengurus sungguh hidup sebagai hamba yang melayani, sebagai sesama yang peduli dan sebagai tanda nyata kasih Allah di tengah masyarakat, “tutup Uskup Ewal mengakhiri kotbahnya.

Reporter : Yuven Fernandez, Sikka NTT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *