Aceh Singkil, sidikinvestigasi.com ~ Pada Rabu 04 Juni 2025 Gema kekecewaan petani menggema di seluruh Aceh Singkil. Program swasembada pangan berkelanjutan, yang menjadi bagian krusial dari Asta Cita kedua Presiden Prabowo Subianto, terancam sia-sia akibat dugaan monopoli kegiatan kelompok tani oleh seorang pejabat. Kepala Bidang (Kabid) Pertanian berinisial JN menjadi sorotan utama, dituding mengangkangi hak-hak petani dan menghambat kemandirian mereka.
Berbagai kelompok tani dari 11 kecamatan di Aceh Singkil secara serentak menyuarakan kekecewaan mendalam. Mereka menuding JN telah mengambil alih peran vital dalam berbagai kegiatan pertanian, mulai dari pengadaan alat, distribusi bibit, hingga penyelenggaraan program pelatihan. Akibatnya, petani merasa kehilangan kesempatan untuk mengelola bantuan pemerintah secara langsung dan mengembangkan potensi mereka secara mandiri.
“Seharusnya kegiatan kelompok tani melibatkan petani secara langsung, bukan malah dipusatkan hanya di satu tangan,” ungkap seorang petani yang tidak ingin disebutkan namanya, dengan nada putus asa.
Petani Serukan Keadilan, APH Diminta Segera Bergerak
Para petani kini menuntut Aparat Penegak Hukum (APH) untuk segera melakukan penyelidikan menyeluruh atas dugaan praktik monopoli ini.
Mereka berharap agar keadilan dapat ditegakkan dan hak-hak petani yang terampas dapat segera dikembalikan. Situasi ini bukan hanya merugikan petani secara finansial, tetapi juga mengancam keberlanjutan program pertanian di Aceh Singkil.
Saat dikonfirmasi, Kabid Pertanian JN membenarkan adanya kerja sama dengan pihak luar, yakni Agro Rezeky Ndatas Tanah Bara. Namun, ia berdalih bahwa pengelolaan dana berada di tangan anggotanya. Penjelasan ini justru menimbulkan lebih banyak pertanyaan di kalangan petani, yang merasa bahwa transparansi masih sangat minim.
Kasus ini menjadi peringatan keras akan pentingnya transparansi dan partisipasi aktif petani dalam setiap program pembangunan sektor pertanian. Tanpa adanya perubahan signifikan dan penegakan keadilan, cita-cita kemandirian pangan dan peningkatan kesejahteraan petani di Aceh Singkil dikhawatirkan hanya akan menjadi isapan jempol belaka, menggerus kepercayaan publik terhadap program-program pemerintah.
Penulis Redaksi
