Flores- NTT. Sidik. Investigasi. Com
Ratusan warga dari berbagai komunitas masyarakat terdampak kebijakan ekstraktif
rezim oligarki mengikuti kelas pembelajaran di hari kedua pada peringatan Hari Anti-Tambang
(HATAM) 2025 di Mataloko,Flores Nusa Tenggara Timur ( NTT) Selasa, 27 Mei 2025.
Mereka berasal dari berbagai zona
pengorbanan ekstraktif mulai dari Sarulla, Sumatera Utara hingga Dieng, Jawa Tengah yang
kini tengah berhadapan dengan krisis akibat tambang panas bumi.
Ada pula komunitas warga
yang kini tengah menghadapi berbagai krisis akibat keberadaan tambang gamping di Lengko
Lolok, Flores dan korban lumpur lapindo di Porong, Sidoarjo.
Pembelajaran antarkomunitas ini merupakan ruang temu untuk menguatkan pengetahuan
warga melalui pembelajaran hukum untuk warga biasa, jurnalisme warga, sains untuk warga.
Ada pula pembuatan sabun organik dan eco enzim untuk merawat kemandirian warga melawan
sekaligus memulihkan dampak negatif dari industri ekstraktif yang merusak lingkungan.
Mosaik Penguatan Pengetahuan Warga
Harwati (48), warga korban lumpur Lapindo, Sidoarjo, Jawa Timur, bersemangat mengikuti
kelas sains untuk warga yang berisi sekitar 40-an warga. Kelas tersebut dirancang agar warga
dapat memonitor kualitas lingkungan hidupnya yang dirusak oleh industri ekstraktif secara
mandiri, dengan peralatan sederhana.
Harwati menuturkan selama empat jam, ia mempelajari
cara mendeteksi kontaminasi pada udara dan air menggunakan alat-alat yang biasa digunakan
dalam kehidupan sehari-hari, dengan mempraktikkannya secara langsung.
Dalam praktik itu, didapati indikasi pencemaran berat yang terjadi di dua lokasi sungai yang
berbeda, yang diduga akibat kehadiran tambang geothermal.
Menurut Harwati, praktik uji
kualitas air dan udara yang dilakukan menjadi temuan awal yang dapat ditindaklanjuti warga.
“Kami bisa menindaklanjuti dengan melakukan uji laboratorium untuk memastikan seberapa
buruk tingkat pencemaran yang terjadi, karena berhubungan dengan kesehatan warga yang
terpapar sehari-hari yang mengonsumsi air tersebut dan menghirup udara tersebut,
” kata dia.
Kelas ini difasilitasi oleh Posko Kesehatan dan Keselamatan Lingkungan Lumpur Lapindo
(Posko KKLula) dan periset JATAM.
Selain itu, ada pula kelas penguatan hukum untuk warga biasa yang bertujuan untuk membekali
komunitas warga yang akhir-akhir ini kerap dibungkam melalui kriminalisasi.
Setiap tahunnya,
angka kekerasan dan kriminalisasi selalu meningkat. JATAM mencatat ada 375 korban dari 33
wilayah selama satu dekade terakhir.
Sementara itu, sejak dilantiknya rezim ekstraktif
Prabowo-Gibran hingga April 2025, terdapat 89 warga yang diadang kriminalisasi saat
mempertahankan ruang hidupnya dari perampasan sistematis yang disponsori
negara-korporasi.
Dalam kelas yang difasilitasi oleh KontraS, YLBHI, JPIC OFM, Tim Hukum KAE, Terranusa,
JATAM dan Trend Asia tersebut bertujuan untuk membekali warga dengan strategi advokasi
dan perlindungan hukum berbasis komunitas agar mereka tidak lagi menjadi korban tanpa
perlindungan.
Dengan peningkatan pengetahuan ini, diharapkan warga dapat lebih siap
menghadapi berbagai bentuk pelanggaran, mulai dari perampasan tanah, kriminalisasi,
intimidasi, hingga kekerasan negara-korporasi.
Sementara di kelas jurnalisme warga, Editor Floresa Anno Susabun, Editor Ekora Adeputra
Moses, dan Editor Mongabay Indonesia Sapariah Saturi, memfasilitasi berbagai komunitas
warga untuk terlibat dalam menyiarkan peristiwa dari tapak.
Dengan harapan bahwa warga
menjadi penyedia informasi bagi media-media independen, baik yang berbasis di daerah
maupun nasional. Dalam kelas ini, warga mempraktikkan secara langsung cara-cara
merumuskan informasi berdasarkan unsur dasar jurnalistik.
Di kelas pembuatan sabun dan eco-enzyme, Arif Harmi Hidayatullah dari Rumah Baca Aksara
(RBA) memfasilitas puluhan komunitas warga yang antusias. Kelas ini bertujuan untuk
membekali warga dengan pengetahuan pembuatan produk organik dengan menggunakan
sumber daya lokal.
Selain itu, kelas ini juga bertujuan untuk membekali warga dengan
pengetahuan membuat pupuk organik menggunakan limbah organik (eco-enzyme).
Selain membangun pengetahuan, berbagai kelas workshop ini juga bisa membangun
solidaritas, dan merumuskan strategi perlawanan kolektif. Dengan kata lain, workshop bukan
sekadar ruang diskusi, tetapi juga bentuk perlawanan kultural dan politik—tempat di mana
warga bisa merebut kembali narasi tentang tanah, hidup, dan masa depan mereka.
Yuven, NTT
